Education Robot|1


Robot manusia
 

Apa yang membuat anak-anak mempercayai robot dan merasa nyaman?

Sebuah studi baru oleh Kimberly Brink dan rekan-rekannya melihat bagaimana anak-anak melihat robot sosial dan faktor apa yang membangun kepercayaan mereka pada guru robot.

Seiring dengan kemajuan kecerdasan buatan dan teknologi robot, gagasan tentang robot sebagai guru atau pendamping bagi seorang anak tidak lagi terbatas pada fiksi ilmiah. Beberapa robot sosial kehidupan nyata, atau mesin otonom yang berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia, sudah bekerja dan membantu orang di tempat-tempat seperti sekolah, rumah sakit, dan rumah.

NAO, robot humanoid yang dirancang oleh perusahaan Prancis Aldebaran Robotics, telah digunakan sebagai sumber pengajaran untuk anak-anak autis di sekolah sejak 2013. Program ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi sosial dan keterampilan komunikasi verbal mereka dengan permainan edukatif interaktif. Dan proyek penelitian internasional L2TOR, yang didanai oleh program Horizon 2020 dari Komisi Eropa, merancang robot tutor ramah anak untuk mengajar anak-anak prasekolah bahasa kedua. Di rumah, robot sosial, seperti iPal AvatarMind, bermain dengan anak-anak dan bertindak sebagai teman.

Tapi atribut apa yang dibutuhkan robot agar seorang anak bisa percaya dan merasa nyaman dengannya? Bagi orang dewasa, robot yang tampak terlalu mirip manusia menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ini adalah fenomena terkenal yang disebut Lembah Luar Biasa. Apakah Lembah Luar Biasa juga ada untuk anak kecil, atau apakah itu sesuatu yang berkembang?

Mempelajari lebih banyak tentang cara anak-anak memandang robot sosial dapat membantu para insinyur dan desainer mengembangkan alat pengajaran yang lebih baik. Juga, mengungkap asal-usul dan mekanisme Lembah Luar Biasa - yang sebelumnya tidak dipelajari pada anak-anak - kemungkinan akan mengarah pada desain robot yang tidak memicu reaksi negatif apa pun.

Kimberly Brink, kandidat doktor dalam psikologi perkembangan dan koordinator Program Lab Hidup di Universitas Michigan, mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini dalam dua studi baru. Studi pertama, yang diterbitkan Desember 2017 di Child Development, menanyakan bagaimana persepsi anak-anak tentang robot memengaruhi tingkat kenyamanan mereka dengan robot. Yang kedua, dipresentasikan pada Pertemuan Dua Tahunan Society of Research in Child Development (SRCD) tahun lalu, menguji kemauan anak-anak untuk belajar dari robot dan atribut apa yang membuat guru robot lebih dapat dipercaya.

Anak-anak yang lebih kecil tidak keberatan jika robot tampak seperti manusia

Untuk studi pertama, Brink dan rekan-rekannya merekrut 240 anak dengan rentang usia 3 hingga 18 tahun di Natural History Museum di Ann Arbor. Anak-anak menonton video robot mirip mesin atau robot mirip manusia. Setelah itu, anak-anak ditanyai pertanyaan seperti “Apakah menurut Anda robot itu bagus atau menyeramkan?” dan “Apakah robot itu membuatmu merasa aneh atau bahagia?”

Kursus Robotik: sariteknologi

Comments

Popular Posts